Bogor: “Kota Seribu Kuliner”

Susana saat perayaan Cap Go Meh di Jalan Surya Kencana, Bogor.
Dok Pri
Berbagai restoran, kafe, dan warung makan baru kini banyak bermunculan di Bogor. Sebagai salah satu kota destinasi wisata, ragam kuliner yang ditawarkan Bogor saat ini semakin lengkap. Mau yang tradisional dan legendaris, hingga makanan Asia, Timur Tengah maupun Eropa semua tersedia.

Bogor, selain dikenal sebagai kota hujan sekarang sepertinya bisa juga dijuluki sebagai kota untuk berburu kuliner. Khususnya bagi masyarakat Jakarta. Maklum Bogor dan  Jakarta berdampingan.

Belakangan refrensi kuliner di Bogor memang semakin lengkap. Mulai dari jajanan pasar, warung pinggir jalan, kafe, dan restoran semua tersedia. Kafe dan restoran dengan mengusung konsep masing-masing bahkan seakan berlomba-lomba hadir untuk menarik pengunjung.

Di Bogor, kalau Anda sedang  ingin menikmati jajanan pinggir jalan yang rasanya dijamin lezat dan enak-enak, Anda bisa ke Gang Aut yang terletak di Jalan Surya Kencana. Di gang Aut Anda bisa menikmati kuliner legendaris Bogor seperti Soto Kuning Pak Yusup, Cungkring,  Lumpia Basah, Pepes Sagu, sampai Bir Kotjok.

Selain itu, di Gang Aut Anda juga bisa menikmati martabak legendaris, Martabak Encek, yang cara masaknya masih menggunakan arang. Untuk rasa, jajanan atawa kuliner di Gang Aut tidak perlu diragukan lagi. Sekali lagi, dijamin enak.

Nah kalau untuk kafe dan restoran, kali ini saya ingin berbagi beberapa refrensi kafe dan restoran di yang dari sisi konsep memiliki karakter yang cukup kuat. Baik itu dari sisi interior yang ditampilkan maupun menu kuliner yang ditawarkan.   Konsep yang ditawarkan mampu menjadi pembeda dengan restoran atau kafe lainnya. Berikut beberapa tempat yang bisa Anda jadikan rujukan.

Grand Garden Cafe

Terletak di dalam Kebun Raya Bogor, kafe yang dulunya diberi nama Dedaunan ini bisa menjadi pilihan Anda jika  sedang ingin merasakan suasana yang berbeda saat menyeruput secangkir kopi.

Berkonsep semi out door, Anda bisa menikmati lezatnya kuliner yang ditawarkan di Grand Garden sambil melihat hijaunya pepohonan di Kebun Raya Bogor. Di kafe ini, Anda benar-benar dapat melepaskan stress dan penat.

Suasana yang ditawarkan Grand Garden bisa dibilang memang sangat “mahal”. Coba saja bayangkan, Anda sedang menyeruput secangkir kopi atau teh di tengah lingkungan yang sangat asri. Di hadapan Anda terhampar ladang rumput luas yang hijau dan di sekitar pepohanan tinggi menjulang. Lalu setiap Anda mengirup napas, udaranya terasa begitu bersih dan segar. Istimewa bukan?

Di cafe ini, pada medio 2017 Presiden Amerika Barrack Obama pernah diajak menikmati kue talam, onde-onde, panada, dan semangkok bakso kuah oleh Presiden Jokowi.

Selain suasana yang mengesankan, kuliner yang ditawarkan di Grand Garden juga cukup istimewa. Pada saat berkunjung ke Grand Garden, salah satu menu yang rasanya cukup memanjakan indra pencecap saya yaitu asinan Bogor khas Grand Garden.

Berbeda dengan asinan Bogor umumnya yang berkuah agak kemerahan, asinan di Grand Garden berkuah agak kehitaman dengan rasa yang cukup pekat.

Rasanya sebenarnya lebih mengingatkan kepada bumbu rujak tapi dibuat agak sedikit cair. Tapi untuk saya rasa yang dihadirkan memang cukup berkesan. Perpaduan rasa manis, pedas, dan gurih menghadirkan sensasi yang indah di lidah.   

Medja

Bila di sekitaran Gang Aut dipenuhi makanan pinggir jalan yang legendaris dan lezat-lezat. Maka di sekitaran Jl Pajajaran Indah diisi oleh deretan kafe-kafe dan restoran. Di sekitaran jalan ini, Anda akan dibuat pusing, mau milih makan di restoran yang mana? Atau mau ngongkrong di kafe yang mana? Karena memang banyak dan menghadirkan konsep yang unik dan menarik.

Salah satu restoran yang saya kunjungi belum lama ini yaitu Medja. Dari sisi arsitektur, tampilan eksterior di Medja cukup menarik. Begitu pun interiornya, sangat mengakomodir hobi orang-orang kekinian saat datang ke kafe: foto untuk konten medsos.

Ruang makan di Medja terbagi menjadi dua tempat, indoor dan semi outdoor. Sebagai pembatas ruangan indoor dan outdoor ada kolam renang melintas dengan ubinnya yang berwarna hijau, memberi nuansa tenang.  

Di Medja, menu makanan yang ditawarkan tidaklah terlalu banyak. Tapi ini cukup menguntungkan, karena orang jadi tidak terlalu lama pusing menentukan menu yang akan disantap.

Kadang bila terlalu banyak menu, malah bikin bingung.

Di Medja saya menikmati menu sop buntut, sushi tuna, dan nasi goreng kampung. Untuk nasi goreng, porsinya cukup banyak. Anda akan cukup kewalahan untuk menghabiskannya sendirian. Untuk rasa, bisa dibilang cukup enak.

Bila saya memerhatikan konsep-konsep resto atau kafe di Bogor, untuk tampilan sepertinya memang dibuat sebagus dan semenarik mungkin. Sehingga pengunjung tertarik untuk datang. Nah nilai lebih lainnya yang ditawarkan adalah dari sisi harga, tetap dibuat terjangkau. Tidak terlalu mahal. Sehingga orang tidak kapok untuk berkunjung lagi. Singkatnya; nyaman di hati dan di kantong.

Kafe Royale

Kafe Royale, Bogor. Ruangan yang disediakan cukup nyaman dan cozzy. Tersedia dua balkon di lt 2 restoran. Satu menghadap ke jalan raya, satu lagi menghadap ke gunung Salak.

Lanjut dari Medja, mari kita menyambangi Kafe Royale. Kafe Royale bisa dibilang, kafe yang paling sering saya kunjungi saat ke Bogor. Karena tempatnya asyik buat nongkrong dan menu yang ditawarkan enak-enak.

Terlebih dulu, Royale juga menjual beraneka pastry, dan rasanya sangat enak. Yang sangat spesial buat saya, roti abonnya. Isian abonnya sangat banyak dan rotinya sangat lembut.  Rasa susu dan kejunya pun cukup dominan.

Sayang terakhir ke sana konsepnya sudah berubah. Untuk bagian toko bakery-nya yang terletak dilantai satu sudah tidak ada lagi.

Oh ya, Royale terdiri dari empat lantai, lantai satu dan dua untuk kafe dan restoran, lantai tiga untuk gym, sedang lantai empat untuk mushala.

Lalu apa konsep terbaru yang ditawarkan di Royale sekarang? Untuk menu, bila sebelumnya Royale menghadirkan makanan-makanan western maka saat ini Royale memilih fokus untuk menawarkan menu-menu masakan tradisional Indonesia. Salah satunya lontong Cap Go Meh. Rasanya enak.

Alih-alih menggunakan santan untuk menghadirkan rasa gurih, Royale sepertinya lebih memilih menggunakan cream bubuk pada lontong Cap Go Meh-nya.

Untuk rasa, semenjak berkonsep western-pun makanan-makanan di Royale memang enak-enak. Seperti spaghetti bologense-nya, sangat enak.

Bila berkunjung ke Royale, saya dan kawan-kawan lebih senang memilih tempat di balkon bagian belakang. Nuansanya romantis dan sangat cozzy. Di balkon belakang kita juga bisa menikmati pemandangan kota Bogor dan Gunung Salak. Sangat nyaman untuk menikmati sebatang rokok dan secangkir coffe latte.

%d blogger menyukai ini: