Menelusur Kota Sumedang: Geliat Industri Kreatif dan Sejarah Panjang Sumedang Larang

Taman Telur, letaknya tidak jauh dari pasar Sumedang. Saat ini tengah terus dilakukan penataan agar semakin bagus dan nyaman.
Taman Telur atau Taman Endog di Kota Sumedang. Letaknya tidak jauh dari pasar Sumedang.
Dok. Pri
Industri kreatif di kota Sumedang saat ini sedang bergeliat. Ke depan sepertinya Sumedang tidak hanya akan mengandalkan tahu saja, kekuatan ekonomi kreatif lainnya  seperti karya seni, arsitektur, buku, inovasi teknologi, animasi, dll akan menjadi kekuatan baru Sumedang.

Secangkir kopi hitam. Harumnya semerbak meruap ke indera pencium. Menggoda indera pencecap untuk segera mencicipi kenikmatannya. Ini untuk kali pertama saya akan mencoba rasa kopi asli dari Sumedang.

“Ini kopi dari Gunung Manglayang, Sumedang. Kalau taste-nya itu lebih ke manis, asamnya rendah. Kalau ingin benar-benar menikmati rasa asli kopinya ya dibuat kopi tubruk,” saran Ricky, barista di kedai kopi Ngopi Bung, di Jalan Prabu Geusan Ulun No 97, Sumedang.

Saya pun segera menyeruputnya. Cita rasanya sangat khas. Agak fruty. Ada perpaduan antara rasa pahit, asam yang tipis, dan agak sedikit manis di belakang. Kalau saya pribadi sangat menyukainya.

“Nah kalau yang asamnya cukup dominan itu kopi Sumedang yang dari Gunung Lingga. Lalu ada juga kopi Sumedang yang dari Gunung Cakra Buana, itu juga asamnya cukup kuat,” kata Ricky.

Belakangan, industri kopi di Sumedang sepertinya memang kian menggeliat. Seperti halnya di kota-kota lainnya di Indonesia layaknya Jakarta, Bogor, atau Bandung kedai-kedai kopi banyak bermunculan di Sumedang. Pemerintah daerahnya (Pemda) pun turut ambil bagian untuk kembali mengangkat pamor kopi Sumedang. Sudah dua tahun belakangan, Pemda Sumedang rutin menggelar Festival Kopi Sumedang.

“Iya A, sekarang kedai kopi di Sumedang semakin banyak sih. Selain Ngopi Bung ini, ada Kafe Selaz, Manualism, Orchid, dan masih banyak lagilah A,” jelas Ricky.

“Kopi  asli Sumedang? Gw baru tahu ada kopi asli Sumedang. Ini kopi Manglayangnya enak banget loh,” timpal Tomi, teman perjalanan saya yang menemani pelesiran seharian ke kota Sumedang hari itu

Ya, Sumedang ternyata tak hanya punya tahu Sumedang atau ubi Cilembu saja, tapi juga punya kopi. Yang ternyata, bahkan memiliki sejarah yang cukup panjang.

http://www.chendela.art/2020/01/31/menikmati-sahaja-kota-majalengka/

Sekilas Tentang Kopi Sumedang

Tak lebih dari segenggam contoh biji kopi kiriman dari Jawa itu diterima De Heeren Zeventien (Tuan Tujuh Belas) di Belanda pada 1706. Mengetahui mutunya yang baik, mereka lantas bersurat kepada Gubernur Jenderal v. Horn di Hindia agar memberi perhatian khusus pada pembudidayaan kopi.

Sejak awal abad ke-17 seperti tertulis dalam Keuntungan Kolonial dari Tanam Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 karya Jan Breman, VOC telah terlibat dalam perdagangan kopi di Laut Merah dan Teluk Kaspia.

Kopi memang tumbuh dengan baik di Nusantara, utamanya di daerah-daerah tinggi perbukitan. Jawa Barat menjadi daerah awal yang dijadikan kawasan pembudidayaan kopi oleh Belanda. Termasuk daerah Sumedang.

Dalam Sejarah Jawa Barat untuk Pariwisata Volume 2 (Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Barat, 1974) digambarkan, bilamana musim panen kopi di daerah Bandung, Sumedang dan Cianjur tidak jarang puluhan gerobak kerbau atau lembu terlihat sibuk mengangkat hasil panen.

Pada zaman penjajahan Belanda bersama Bandung, Cianjur, Limbangan, dan Sukapura Sumedang  masa itu memang dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Dulu bahkan biji kopi dari tanah-tanah Priangan tersebut begitu dikenal di dunia.  Sehingga bangsa Eropa kerap menyebut secangkir kopi dengan istilah “Cup of Java”.

Kejatuhan kopi Jawa dimulai ketika serangan penyakit karat daun melanda pada tahun 1878. Setiap perkebunan di seluruh Nusantara terkena hama penyakit kopi yang disebabkan oleh Hemileia Vasatrix. Jawa Barat merupakan wilayah terparah akibat serangan hama penyakit karat daun. Termasuk Sumedang.

Saat ini, pemerintah sepertinya tengah mencoba untuk kembali mengangkat pamor kopi Sumedang. Bukan hanya oleh Pemda melalui Festival Kopi-nya. Tapi juga oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri RI.

Industri Kopi di Sumedang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda
Panama, salah satu brand kopi asli Sumedang
Dok Pri

Tahun 2019 lalu, KBRI Pretoria mendatangkan Kopi Geulis, UMKM dari Kota Sumedang untuk mengikuti salah satu pameran kopi dan cokelat terbesar di dunia yang sudah ketujuh kalinya diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan. 

Pembangunan di Kota Sumedang belakangan memang kian menggeliat. Terutama untuk pengembangan industri kreatifnya. Tahun 2020 ini, Sumedang rencananya bakal memiliki Gedung Creatif Center, yang akan mewadahi kegiatan kreativitas para komunitas kreatif di Sumedang.

Mengutip laman cihonews.com, Gedung Creative Center Sumedang rencananya akan dibangun setinggi lima lantai  dan akan menempati lahan kurang lebih seluas 2000 meter. Untuk kapasitas gedungnya sendiri, diperkirakan mampu memuat lebih dari 1000 orang. Jika tidak ada halangan, gedung ini rencananya mulai dibangun pada pertengahan tahun 2020.

Geliat Ekonomi Kreatif Sumedang

Sabtu, 15 Februari 2020, ada yang berbeda di tanah lapang yang terletak tepat di sebelah gedung Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora), Sumedang. Sebuah panggung musik berukuran cukup besar berdiri, dihiasi ornamen khas perdesaan seperti caping dan kukusan.

Event musik hari itu diberi tajuk “Sumedang Got Talent”. Meski awan mendung seharian menggelayut di kota Sumedang hari itu, tapi tak menyurutkan semangat dan keseruan kontes. Satu persatu peserta tampil bergantian.

“Dulu tahun 2005 pernah ada, tapi kemudian vakum dan baru ada lagi sekarang. Yang sekarang ini panggungnya dibuat lebih bagus, lebih besar. Dulu mah gak pake panggung, di bawah saja,” tutur Ato “Gorila”, salah satu musisi jalanan kota Sumedang.

Ato sudah cukup lama menjadi musisi jalanan di kota Sumedang. Ia sosok yang lekat dengan almarhum musisi Harry Roesli, dan juga dengan Doel Sumbang.

“Kalau dulu sebenarnya sudah pernah tertata baik. Musisi jalanannya sudah ada yang disalurkan untuk manggung di kafe-kafe. Nah belakangan agak tak terurus, dan saat ini akan ditata kembali,” kata Ato.

Kontes “Sumedang Got Talent”, menurut Ato terselenggara berkat prakarsa Disparbudpora Kota Sumedang. Event ini rencananya akan menjadi agenda tahunan kota Sumedang.

“Jadi kalau untuk tahun ini, Disparbudpora bekerjasama dengan Komunitas Penyanyi Jalanan Sumedang, di mana saya tergabung di dalamnya, bersama-sama menyelenggarakan ‘Sumedang Got Talent’. Kalau dari pertemuan saya dengan Wakil Walikota, dan Kang Doel Sumbang sih rencananya ini akan dijadikan agenda tahunan,” jelas Ato.

Lebih lanjut Ato mengatakan, bagi para peserta yang menjadi pemenang dalam ajang “Sumedang Got Talent” nantinya akan diberi kesempatan untuk rekaman. Tentunya setelah mendapatkan pelatihan dari beberapa mentor.

“Ya nantinya akan diasah dulu, sehingga dari sisi kualitas diharapkan memang akan dapat bersaing di kancah nasional,” kata Ato.

Hari itu, event kreatif di Sumedang bukan hanya berlangsung di pelataran kantor Disparbudpora saja, tapi juga berlangsung di Mal Plaza Asia. Event-nya bertajuk, “Pelantikan Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia Kabupaten Sumedang dan Festival Pop Singer 2020”. Suasananya cukup meriah, dan cukup menghibur para pengunjung yang datang ke mal.

Berbeda dengan sektor lain yang sangat tergantung pada eksploitasi sumber daya alam, kekuatan ekonomi kreatif lebih bertumpu kepada keunggulan sumber daya manusia. Karya seni, arsitektur, buku, inovasi teknologi, dan animasi, berasal dari ide-ide kreatif pemikiran manusia.

Kekuatan ekonomi kreatif belakangan juga menjadi sumber pendapatan yang cukup signifikan bagi negara. Faktor tersebut kemudian sepertinya melatarbelakangi optimisme Presiden Joko Widodo, bahwa ekonomi kreatif kelak akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Untuk Sumedang, kota kecil yang sebelah utaranya berbatasan dengan Indramayu, sedang selatannya berbatasan dengan Garut ini Pemda beserta masyarakat setempatnya tengah terus menggenjot dunia industri kreatif di berbagai bidang. Hal ini pun mendapat perhatian dari pemerintah provinsi Jawa Barat.

Tahun ini, dari 26 Kab/Kota se-Jawa Barat, Kabupaten Sumedang terpilih menjadi Kab/Kota Kreatif Tahun 2020. Sumedang menjadi salah satu kabupaten yang terpilih masuk dalam tahap assesment pemilihan Kab/Kota kreatif Center.

Alhamdulillah Kabupaten Sumedang terpilih menjadi Kab/Kota kreatif tahun 2020, untuk itu kami siap dilakukan penilaian oleh Tim Assesment dan saya berharap Kabupaten Sumedang mampu memerankan fungsinya sebagai Kab/Kota kreatif yang akan menjadi role model bagi Kab/Kota lainnya,” kata Mahmudah Misran, Kasi Industri Kratif Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, seperti terlansir dalam indofakta.com, 03/06/2019.

Sumedang, tengah terus menata diri. Berbagai sisi kotanya tengah dipoles, seperti alun-alun kotanya yang tengah direnovasi.

“Iya sedang direnovasi. Kalau nggak mah, pas hari libur seperti hari ini di alun-alun ramai. Ya semoga Sumedang semakin maju,” harap Ato “Gorila”.

Seharian Menelusur Kota Sumedang

Pagi, sekira pukul 09.00 WIB, perjalanan menelusur kota Sumedang diawali dari Taman Telur atau Taman Endog. Letaknya berdampingan dengan pasar Sumedang.

Di area pasar Sumedang kita bisa menemukan kuliner khas Sumedang seperti Soto Bongko. Sayangnya ketika sampai di Taman Endog, sebelumnya saya sudah sarapan terlebih dahulu di hotel. Jad perut masih terasa kenyang, dan tak ada cukup ruang lagi untuk diisi Soto Bongko.

Suasana di Taman Telur cukup ramai pagi itu. Beberapa ibu-ibu dan anaknya tampak mengantre di Halte Tampo Mas, halte untuk menaiki kendaraan semacam “Bandros”-nya Sumedang.

Tampo Mas, Bandros-nya Kota Sumedang. Dengan kendaraan ini Anda akan diajak berkeliling menikmati indahnya Sumedang.
Dok Pri

“Kendaraannya cuma satu pak dan sedang keliling. Tapi untuk sesi selanjutnya juga sudah full. Kalau mau ya harus nunggu cukup lama. Sekitar 45 menitan,” kata si teteh penjaga tiket.

Cukup lama. Saya memutuskan untuk tidak naik Tampo Mas.

Usai menikmati Taman Telur, kaki saya melangkah menuju warung tahu yang cukup terkenal di Sumedang, Citarasa. Letaknya berhadapan dengan warung tahu Bungkeng, sang pelopor tahu Sumedang.

Kenapa tidak ke Bungkeng? Karena saya pernah merasakan sebelumnya, saat pertama kali berkunjung ke Sumedang.

Lalu untuk rasa enak mana? Sama-sama enak, hanya untuk sambal cocolan tahunya saja yang berbeda. Bila Bungkeng pakai sambel tauco, Cita Rasa menggunakan sambel bercita rasa asam manis. Agak mirip sambal bangkok.

Perjalanan industri tahu sudah berlangsung sangat lama di Sumedang. Ong Bungkeng telah memulai usahanya sejak 1917. Ini menjadi contoh industri kreatif pada dasarnya sudah menjadi bagian yang cukup mengakar di Sumedang. Kini tugas dari Pemdanya, adalah membuat industri-industri kreatif lainnya tumbuh berkembang hingga menjadi sama besar dan populernya dengan industri tahu.

Setelah perut terisi tahu Sumedang, saya pun memutuskan untuk ke Museum Geusan Ulun. Nama museum yang diambil dari nama Raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang ini menyimpan berbagai benda koleksi yang menyimpan kisah perjalanan sejarah kota Sumedang.

Museum Prabu Geusan Ulun beralamat di Jalan Prabu Geusan Ulun Nomor 40, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Lokasi museum mudah ditemukan karena letaknya di tengah wilayah Kabupaten Sumedang, 50 meter dari alun-alun ke sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan gedung-gedung Pemerintah Kabupaten Sumedang.

Museum yang pertama dibuka pada 11 Maret 1974 itu memiliki enam gedung penyimpanan peninggalan sejarah. Enam gedung tersebut yaitu Gedung Sri Manganti (menerima tamu), Bumi Kaler (rumah dinas bupati), Gendeng (menyimpan pusaka lama), Pusaka, Gamelan dan Gedung Kereta Kencana. Total luasnya 1,8 hektar.

Di Museum Geusan Ulun saya ditemani Bunda Eneng, salah seorang pengurus museum. Bunda Eneng masih keturunan dari Pangeran Suria Kusumah Adinata atau dikenal juga dengan nama Pangeran Sugih.  Bupati Sumedang yang berkuasa antara tahun 1836 sampai dengan 1882.

Selama kunjungan, Bunda Eneng terus memberikan penjelasan terkait kisah di balik benda-benda koleksi museum, dan tentang museum sendiri.

“Nah kalau yang ini salah satu koleksi yang cukup istimewa, yaitu mahkota Binokasih. Mahkota Binokasih ini merupakan mahkota yang dipakai oleh raja-raja Sunda dan menjadi benda pusaka kerajaan hingga Kerajaan Sunda runtuh,” tutur Bunda Eneng

Ia melanjutkan, saat Kerajaan Pajajaran terdesak karena serangan pasukan Cirebon, Banten, dan Demak  mahkota ini dibawa ke Kerajaan Sumedang Larang oleh empat Kandaga Lante utusan dari Prabu Siliwangi. Mahkota kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun dengan harapan dapat menggantikan dan melanjutkan keberadaan dan kejayaan Kerajaan Sunda.

Benda-benda koleksi di Museum Geusan Ulun memang cukup beragam dan menarik. Beberapa yang menarik perhatian saya seperti koleksi harimau Jawa yang diawetkan dan koleksi rencong pengawal Cut Nyak Dien.

“Cut Nyak Dien sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Sumedang, bahkan sampai mendapat sebutan Ibu Prabu atau Ibu Suci. Sebab selama pengasingan di Sumedang beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar Alquran dan bahasa Arab kepada masyarakat,” jelas Bunda Eneng.

Selama berkunjung ke Museum Geusan Ulun, banyak hal yang membuat saya terkesan. Utamanya terkait cerita sejarah di balik benda-benda koleksi museum.

Usai menelusuri sejarah panjang Sumedang di Museum Guesan Ulun, saya kemudian memutuskan untuk menikmati sore di Sumedang dengan secangkir kopi di kedai Ngopi Bung.

Kedainya tak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Di kedai ini untuk kali pertama saya merasakan nikmatnya kopi Sumedang.

Tepat, pukul 17.00 setelah menikmati secangkir kopi dan setangkup roti bakar saya kemudian memutuskan untuk memacu kendaraan kembali ke Jakarta.

Sumedang, meski pun hanya sebuah kota kecil, tapi cukup mengesankan buat saya. Kotanya cukup bersih, kulinernya enak-enak dan infrastruktur wisatanya sudah terbangun cukup baik.

Sehari menelusur kota Sumedang tentu tak cukup untuk menjangkau seluruh daerahnya, dan memang ada rasa tak puas karena ada tempat-tempat menarik lainnya yang belum saya kunjungi.

Tapi saya berjanji, suatu hari nanti, ke Sumedang aku kan kembali.

%d blogger menyukai ini: