Makanan Jalanan dari Masa ke Masa

Pedagang soto mi di sekitaran ruas Jalan Panglima Polim
Dok. Pri
Diawali dari berdagang ikan goreng kecil di pinggir jalan di masa Yunani kuno.

Bila kita tarik ke belakang, beberapa sumber menyebutkan sejarah street food diawali dari penjualan ikan goreng kecil yang dijajakan di jalanan pada masa Yunani kuno. Selanjutnya, street food kemudian menyebar ke Romawi kuno. Dari sisi menu, di Roma street food  mengalami variasi dan perkembangan, tidak sekadar ikan goreng.

Pada masa Romawi kuno street food banyak dikonsumsi oleh masyarakat miskin yang di rumahnya tidak memiliki oven atau perapian. Dalam penggalian di Herculaneum dan Pompei, sisa-sisa khas “thermopolia” yang terpelihara dengan baik dapat dilihat, cikal bakal warung makanan hari ini.

http://www.chendela.art/2020/02/01/mencari-tahu-sejarah-sashimi/

Thermopolia adalah semacam dapur mini yang menghadap langsung ke jalan, digunakan untuk menjual semua jenis makanan yang dimasak, terutama rebusan farro, kacang-kacangan atau cicerchia. Pada waktu itu, penduduk kota yang kurang kaya tinggal di apartemen, pada dasarnya blok apartemen, kebanyakan tanpa dapur. Jadi penduduk makan di jalan, membeli makanan mereka dari thermopolium terdekat, yang memasok makanan bergizi yang terjangkau oleh semua orang.

Hampir sama dengan yang terjadi pada masa China kuno. Street food atawa makanan jalanan menjadi andalan bagi penduduk miskin untuk mengisi perut mereka. Hanya saja, di China jika orang kaya ingin turut merasakan makanan jalanan, ia akan menyuruh pembantunya untuk membeli dan memakannya di rumah.

Dalam perjalanannya, makanan jalanan memang terus mengalami perkembangan. Pedagang kaki lima di Mesir abad ke-14 menjual kebab, nasi, dan gorengan domba. Di Amerika Utara, selama periode Kolonial Amerika, makanan jalanan yang dijual adalah babat, tiram, jagung panggang, buah-buahan dan permen.

Negara di Eropa pun tak terlepas dari keberadaan makanan jalanan. Potongan kentang goreng dijual di jalanan Paris pada abad ke-19 dan merupakan asal kentang goreng. Sedang warga London biasa menikmati jajanan sup kacang polong, kacang polong mentega, whelk, udang dan belut kental.

Peddagang asinan betawi dan rujak juhi, di sekitaran jl panglima Polim, Jaksel
Pedagang Asinan di sekitaran Jalan Panglima Polim

Bagaimana dengan di Indonesia? Street food di Indonesia ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Hal tersebut dapat dilihat dari apa yang tertera pada salah satu relief Candi Borobudur.

Pada baggian relief Borobudur ada yang menggambarkan pedagang  makanan dan minuman keliling yang menunjukkan bahwa wirausaha makanan skala kecil telah didirikan di Jawa kuno pada awal abad ke-9. Prasasti-prasasti yang berasal dari periode Majapahit sekitar abad ke-14 juga menggambarkan penjual makanan dan minuman sebagai salah satu dari rangkaian karya dalam masyarakat Jawa.

Selama perjalanannya, street food kemudian memang tetap lekat dengan stereotip makanan berharga murah yang dijajakan di pinggir jalan. Tapi saat ini dari sisi konsumennya sudah sangat beragam. Tidak lagi hanya dikonsumsi orang kasta rendahan saja.

Berdasar pengalaman, bila rasanya enak, maka bukan hanya kaum pekerja bergaji rendah saja yang akan menikmatinya. Golongan sukses berdasi pun tak akan sungkan mampir untuk makan di tempat itu.

Tak jarang orang-orang dengan mobil mewah rela mengantre panjang, hanya untuk menikmati sepiring nasi goreng atau mie ayam pinggir jalan.

Buat saya pribadi, makanan pinggir jalan (yang memang rasanya enak) itu ngangeni. Atau bikin selalu ingin datang untuk menikmatinya kembali. Selain itu, kembali berdasarkan pandangan pribadi, makanan pinggir jalan yang enak ya yang dijajakannya  benar-benar di pinggir jalan, pakai tenda atau gerobak saja.

Saat menu makanan jalanan diadaptasi jadi menu restoran, seperti halnya bakso, rasanya kerap kali failed. Gak senendang bakso gerobak pinggir jalan. Bisa jadi, debu-debu yang beterbangan itulah yang menjadi kunci nikmatnya makanan pinggir jalan….he…he..he..

%d blogger menyukai ini: