Asal Mula Hidangan “Sashimi”

sahimi merupakan hidangan asal negeri Jepang nerupa potongan ikan mentah yang disantap bersama soy sauce, wasabi, dan potongan jahe
Dok. Pri
Hidangan asal negeri Jepang ini memiliki sejarah yang cukup panjang, dan memiliki banyak versi terkait asal muasalnya.

Kisah mulanya, ada yang menuturkan berawal dari sajian bernama Namasu, berupa potongan ikan mentah dan sayuran yang hanya diberi bumbu cuka, yang dimakan masyarakat Jepang sekitaran periode Heian.

Ada juga yang bertutur, awalnya bermula dari makan cepat saji berupa potongan ikan yang dijual oleh para nelayan Jepang pada periode Kamakura.

Sejarah soal asal mula Sashimi, memang masih misteruis sampai saat ini. Terlalu banyak versi. Seperti ada juga sumber yang menuliskan, penyebutaan kata sashimi untuk kuliner potongan ikan mentah yang dimakan dengan bumbu kecap Jepang  diawali pada periode Muromachi.

Sashimi, untuk masyarakat Jepang, kuliner ini biasanya dijadikan sebagai sajian pembuka dalam hidangan resmi Jepang. Atau dapat juga sebagai hidangan utama, ditemani dengan nasi dan sup miso yang disajikan terpisah.

Dihidangkan dalam bentuk sajian ikan mentah, bagi sebagaian masyarakat Indonesia sajian sashimi memang sepertinya agak sulit untuk diterima. Terlebih bahan utamanya daging-dagingan, yaitu ikan. Sampai saat ini saya belum menemukan refrensi kuliner berupa hidangan ikan mentah dari Indonesia.

Kalau untuk sayur, ada lalapan dan karedok. Orang Sunda sudah sangat biasa menyantapnya.

Tapi sepertinya, untuk kalangan tertentu di Indonesia. Sashimi sudah sangat familiar untuk mereka. Biasa jadi, masuk dalam menu favorit.

Kenapa saya bilang kalangan tertentu, karena selain hidangannnya cukup unik karena disajikan mentah. Harganya juga cukup mahal. Maklum jenis ikan yang digunakan berharga cukup mahal. Seperti halnya salmon, tuna, atau makarel.

Saya termasuk salah satu pecinta sashimi. Karena perpaduan rasa antara daging ikan yang segar dengan cocolan kecap jepang atau soy sauce yang diberi wasabi menurut saya sangat enak. Unik. Sulit untuk dijabarkan memang. Ada rasa gurih, pedas, dan hangat yang berpadu dalam setiap suapan saat menyantap sashimi.

Untuk mengakali harganya yang mahal, biasanya saya membelinya di Papaya, mini marketnya Jepang. Karena di tempat ini, bila sudah lebih dari pukul 19.00 untuk makanan yang harusnya disajikan segar sudah mendapat potongan harga yang lumayan.

Dok Pri

Jadi sudah tidak enak dong ikannya?

Masih enak kok. Mungkin karena standar segar ala orang Jepang terlalu tinggi, makanya agak lama sedikit harga langsung turun. Kalau buat saya sih, masih enakenak aja kok. Hauce. Hee….he….

%d blogger menyukai ini: