Menikmati Sahaja Kota Majalengka

Lanskap Kota Majalengka dari kawasan wisata Gunung Panten
Dok. Pri
Saat kemarau angin berhembus lebih kencang di Majalengka. Memberi nuansa tersendiri bagi para pelancong yang berkunjung ke kota yang juga mendapat julukan sebagai kota kecap tersebut.

Medio September 2018, saat itu masih musim kemarau panjang. Pepohonan tampak mengering di sepanjang jalan menuju Majalengka dari arah Sumedang. Pematang sawah, bukit-bukit jadi terlihat serba-coklat.

Awalnya saya dan seorang teman, hanya ingin liburan ke daerah Sumedang saja. Menikmati kota kecilnya, sambil mencari kuliner khas kota yang sepanjang jalan diisi pedagang tahu tersebut.  Tapi saat mencari penginapan, aplikasi online menampilkan resort yang cukup menarik, Paraland. Letaknya di atas gunung, di Majalengka. Maka melajulah mobil ke kota yang bila dilihat di maps membutuhkan waktu tempuh hampir dua jam dari Sumedang.

Untungnya, kondisi jalan saat itu cukup baik. Tidak rusak dan tidak terlalu macet.

Saat mobil memasuki kota Majalengka, suasana dan kondisi kotanya cukup membuat saya bertanya-tanya dalam hati.

“Kok kotanya rapi ya. Kok cukup bersih. Kok dari tadi sepanjang jalan rumah bagus semua ya, dan kok…kok yang lainnya.”

Ternyata bukan hanya saya yang memerhatikan hal tersebut. Teman saya juga.

“Orang di sini kerjanya apa ya? Rumahnya bagus-bagus. Kotanya juga bersih,” kata teman saya.

Majalengka memang bukan kota yang penuh gemerlap lampu, atau banyak mal-mal besar. Tapi karena tertata rapi dan bersih, suasananya jadi menyenangkan.

Paraland  letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari alun-alun kota Majalengka. Lokasinya tepat di atas Gunung Panten. Berdampingan dengan wisata paralayang Gunung Panten. Jadi bila tertarik, pengunjung dapat mencoba wisata dirgantara paralayang dan gantole.

Di awal, karena tiba agak malam. Saya sempat dibuat was-was saat tiba di Paraland. Pasalnya, tidak jauh dari pos pintu masuk, ada situs wisata religi petilasan Prabu Siliwangi. Di pintu masuknya terdapat patung macan.

“Wah bakal serem nih,” pikir saya.

Tapi prasangka itu segera menghilang karena ternyata resort mengusung konsep syariah. Bagi laki-laki perempuan yang bukan pasangan menikah, dilarang menginap. Alkohol pun dilarang.  

“Aman,” kata saya dalam hati. Setidaknya konsepnya religius. Selain itu, suasana di Paraland cukup bersih dan hangat. Jadi jauh dari suasana horor.

Paraland bisa dibilang mengusung konsep wisata terpadu kekinian. Selain menghadirkan fasilitas wisata seperti outbond, permainan ATV, dan painball. Paraland juga menghadirkan spot-spot yang cantik bagi pengunjung untuk ber-selfie atau wefie ria.

Sayangnya, saat saya berkunjung sedang musim kemarau dan angin sedang kencang-kencangnya berhembus. Jadi tidak ada wisata paralayang atau gantole.

Majalengka selama ini memang dikenal sebagai “kota angin,” karena bila dibanding kota lain. Angin berhembus lebih kencang di Majalengka. Terutama di bulan Juli-Oktober, saat kemarau tiba.

Di malam hari, saya dan teman sempat pelesir menikmati kota Majalengka. Alun-alunnya cukup ramai, toserbanya ada Yogya dan Griya.

Kami singgah di salah satu kafe, yang sepertinya sebelumnya sebuah taman rumah orang kaya  yang kemudian dijadikan tempat usaha. Karena ada bangunan pendopo dan kolam renangnya.

Kafenya ramai. Diisi rata-rata oleh anak remaja baru gede.

Saya memesan segelas kopi susu hangat. Minuman yang cocok untuk menemani rokok dan suasana kota Sumedang, yang agak dingin karena angin yang terus berhembus kencang.  

Pagi hari, sekira pukul 10 kami meninggalkan Majalengka, balik ke Jakarta. Jejak roda kendaraan kami pasti langsung terhapus angin, tapi suasana Majalengka ternyata cukup membekas diingatan.

%d blogger menyukai ini: