Adam Lay: Kisah Sang Pelukis Kuda

Sumber: Tribunnews

Lamat dari dalam ruangan rumah terdengar suara musik keroncong mengalun merdu. Suara tua khas Gesang lantas merambat di gendang telinga, “Sekali ku hidup, sekali ku mati, aku dibesarkan, di bumi pertiwi. Akan ku tinggalkan warisan abadi, semasa hidupku, sebelum aku mati,” lantun Gesang. 

Di bangku taman di samping rumahnya, Adam Lay sang pelukis yang mahsyur lewat lukisan kudanya  itu tampak terdiam. Sesekali ia meneguk bandrek untuk menghangatkan tubuh. Di rumahnya di daerah Cipanas, udara memang sedang sangat dingin saat itu. Hujan tak henti-hentinya turun.   

“Senengane kok dengar lagu wong meh mati,” celoteh Haryono, sahabat Adam Lay sedari kecil di Wonosobo. 

Lalu kami pun tertawa.

Setelah sempat terserang stroke pada 2005, lirik lagu Gesang “Sebelum Aku Mati” memang begitu menginspirasi Adam Lay. Ia ingin meninggalkan “warisan” sebelum mati.

“Saya itu dikenalnya sebagai tukang gambar, bukan sebagai seniman,” keluh Adam.

Sungguh pengetahuan saya tentang Adam Lay masih sangat rigit saat itu. Perkenalan saya dan Adam pun terbilang cukup ajaib. Tiba-tiba saja Haryono datang ke kantor saya, Majalah Arti, di daerah Rawamangun. Ia memperkenalkan diri sambil berkata,  datang karena tertarik dengan judul muka majalah Arti, “Kebangkitan Realisme”.

Kebetulan, sohib kentalnya, Adam Lay, pelukis beraliran Naturalis. Cocok. Nyambung. Karena di tahun 2008 sebenarnya kontemporerlah yang sedang booming. Kok berani-beraninya Arti mengangkat tema “Kebangkitan Realisme.”

Singkat cerita. Har meminta saya untuk menjadi kurator pameran Adam Lay. “Kurator?” Saya baru sekira tiga bulan menjadi wartawan seni padahal. Tentu saya menolak.  Har bergeming.

“Ketemu saja dulu,” katanya.

Adam memang tak turut serta saat itu.

Kira-kira tiga atau empat hari kemudian barulah Adam ikut serta ke kantor. Ia sungguh jauh dari gambaran seorang seniman. Secara tampilan tentunya. Kulitnya putih, bersih. Blangkon menutupi kepalanya. Pakaiannya menggunakan batik dan bercelana bahan.

Setelah bercakap-cakap. Ternyata Adam ke kantor setelah mengantar lukisannya ke salah satu kolektor karyanya di Kelapa Gading. Adam pun mengungkapkan keseriusannya untuk menjadikan saya kurator pameran lukisannya.

“Kenapa saya? Saya baru di dunia seni. Baru tiga bulan jadi wartawan seni. Bukan juga lulusan fakultas seni. Kenal sama pelukis pun baru beberapa orang saja.”

Alasannya ternyata sederhana. Karena nama saya, mengandung nama salah satu tokoh perwayangan. “Ismaya” atau Semar.  Adam sedari kecil memang lekat dengan wayang. Maklum, Adam lahir di zaman saat pilihan hiburan masing sangat terbatas. Salah satu yang paling populer ya pertunjukkan dan kisah-kisah wayang.

Ya. Jadi Adam meminta saya menjadi kuratornya semata-mata karena nama saya ada kata “Ismaya”-nya.

Bersediakah saya?

“Tidak.”

Tapi saya bersedia membantunya untuk berpameran. Bersedia memberi masukkan. Itu pun bila dibutuhkan.

Meski demikian. Adam tetap saja menganggap saya kuratornya.

Mulai saat itu, saya pun jadi kerap bolak-balik Jakarta Cipanas. Bila jelang akhir pekan, Har akan menjemput saya untuk ke rumah Adam. Saya selalu meyukainya. Tentu hitung-hitung liburan.

Mulai saat itu juga lagu “Bila Aku Mati”-nya Gesang jadi begitu akrab di telinga. Saat di mobil, di rumah. Lagu itu terus mengalun.

“Pak Darma kuliah di Semarangkan? Dulu saya pernah ke Sunan Kuning. Waktu masih muda. Masih nakal,” kata Adam

“Emang sekarang udah gak nakal,” timpal Har.

“Sedikit,” jawab Adam. Tawa pun pecah.

“Jadi saya pernah ke Sunan Kuning. Tapi kok perempuannya pakai kebaya semua. Pas saya tanya, eh lagi memperingat hari Kartini. Ya gak jadi. Lagi gak ngelayanin tamu,” terang Adam.

Tawa pun pecah. Sepecah-pecahnya.

“Hehehe…dasar seniman,” dalam hati saya.

Lukisan Perempuan di Ruang Tamu

“Ayo pak Darma. Ini batagor kuahnya enak loh. Pas, udaranya lagi dingin,” kata Adam dengan nada suara yang agak tidak jelas.

Pascastroke, saat berbicara Adam memang menjadi pelo. Cadel. Saat makan bahkan ia harus menggunakan serbet di dada. Karena air liur tak dapat dikendalikan untuk menetes ke luar.

Semenjak didapuk untuk menjadi kurator pameran Adam Lay, saya memang jadi sering ke rumahnya. Dan karena saya kurator dadakan, atau dipaksa untuk jadi kurator tanpa latar belakang ilmu seni, maka obrolan jadi lebih banyak ke urusan pribadi ketimbang kesoal karya atau soal kesenian. 

Dan bila lelaki bergunjing. Tema utama tentu saja persoalan perempuan.

Adam Lay ternyata sudah dua kali menikah. Dengan istri pertamanya ia tidak dikaruniai anak. Lalu bercerai. Sedang dengan istri keduanya, yang saya hanya kenal dengan sebutan “teteh,” Adam dikaruniai dua putra. Wahyu Purnawan dan Daminata.

Kenapa istri Adam hanya saya kenal dengan sebatas sebutan “teteh”, karena saya memang tidak pernah diperkenalkan langsung. Setiap saya ke rumahnya pun istrinya selalu sedang tidak ada. Jadi memang tidak kenal.

Kembali kepersoalan obrolan perempuan. Saat itu, bila saya berkunjung ke rumah Adam, maka di dinding ruang tamu saya dapat menikmati sebuah lukisan besar berobjek dua orang perempuan dengan seekor macan tutul di belakangnya, mereka tampak meniti sebatang pohon yang merebah layaknya jembatan dengan backgorund hutan tropis yang lebat.

“Judulnya catwalk,” kata Haryono.

“Jadi harus hati-hati juga dengan perempuan. Kelihatannya cantik, lemah lembut tapi setiap saat siap menerkam,” sambung Adam.

Lagi-lagi tawa pecah.

Selain bercakap-cakap soal urusan pribadi, tema politik kadang juga jadi topik yang  cukup hangat untuk diperbincangkan. Untuk urusan politik, Adam menyimpan kisah yang cukup menarik. Saat masih belia, ternyata ia pernah ikut lomba lukis yang diselenggarakan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), sayap kesenian PKI. Adam menang, juara satu bahkan. Ia dapat hadiah dan sertifikat.

Tapi saat peristiwa tahun 65 terjadi, alangkah kagetnya Har saat Adam tiba-tiba pulang ke rumah merobek serta membuang semua bukti kemenangan lombanya. “Panik dia Pak,” kata Har seraya tertawa terpingkal-pingkal.

Untungnya Adam bernasib baik. Alih-alih terseret geger 65, di era Orde Baru ia justru meraih masa keemasannya sebagai seorang pelukis. Di era 90-an, karya-karya Adam laris manis diburu kolektor. Bila berpameran, tidak ada yang tersisa satu pun untuk dibawa pulang. Sold out.

“Cari duit 100 juta sebulan waktu itu gampang pak. Kolektor yang datang ke rumah setiap hari selalu ada saja,” kata Har.

Adam, Lukisan Kuda Yang Memperkuda

Sumber: mutualart.com

“Saya tidak mau melukis kuda lagi,” tegas Adam Lay beberapa kali kepada saya. Ia sudah lelah melukis kuda.

“Sudah ribuan kali saya melukis kuda. Sekarang, sambil merem pun saya bisa melukis kuda. Sudah sangat hafal,” aku Adam.

Bagi kolektor lukisan tanah air, seniman, dan pecinta lukisan sosok Adam memang sangat lekat dengan lukisan kuda. Sebut saja  nama Adam Lay ke sesama pelukis, pasti akan dijawab, “oh pelukis kuda itu ya.”

Ya, Adam memang sangat identik dengan kuda. Di titik ini, saya melihat Adam sebagai sosok pelukis  yang sangat cerdik dalam mencari “cuan”. Di satu sisi, ia sepertinya paham benar bahwa pecinta karya seni di negeri ini banyak berasal dari warga keturunan Tionghoa- Tidak bisa dimungkiri,  mulai dari pengusaha frame lukisan, cat, pengusaha kanvas hingga pemiliki galeri rata-rata didominasi oleh warga keturunan- Sedang  bagi warga Tionghoa kuda merupakan simbol pembawa keberuntungan.

Tak hanya untung, kuda juga dimaknai orang-orang Tionghoa dengan berbagai ihwal yang positif. Sebagai simbol pekerja keras, lambang kecepatan, dan kebergasan (symbol of swiftness). Maka, laris manislah lukisan kuda Adam Lay diburu para kolektor atau orang kaya yang ingin memajang lukisan kuda di rumah atau di kantor mereka agar selalu dinaungi keberuntungan.

Terlebih Adam juga sangat mengerti berbagai hal terkait mithologi yang dipercaya oleh orang Tionghoa. Seperti jumlah angka yang membawa keberuntungan atau kesialan. Ia juga sangat piawai melukis hewan-hewan lain yang bagi masyarakat Tionghoa dipercaya mampu membawa keberuntungan seperti halnya ikan koki, koi, atau angsa sebagai lambang panjang umur. Maka semakin larislah lukisannya.

Seperti kata Har, bukan hal yang susah bagi Adam mencari uang 100 juta dalam sebulan masa itu. Saat Orde baru. Bayangkan di masa sebelum moneter, memiliki penghasilan 100 juta dalam sebulan? Tentu terbilang sangat berkecukupan.

“Pantas rumahnya besar dan mewah,” pikir saya.

Meraih kantung-kantung uang dari lukisan kudanya, Adam sepertinya kemudian menjadi tumpuan hidup banyak orang. Di luar keluarga, ada saudara, ada sahabat. Biasa, ada gula ada semut. Maka tak pernah berhentilah ia membuat kuda, koi, ikan koki, angsa, dll untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tinggi.

Dari melukis kuda, tanpa disadari ia mulai diperkuda lukisan kuda. Adam mulai kehilangan esensi sebagai seorang seniman. Ia mulai merasa ia hanya tukang lukis yang memenuhi pesanan yang tak pernah berhenti datang. Itu saja

Bekerja tanpa kesenangan. Tanpa kegembiraan tentu fatal jadinya. Adam terkena stroke pada 2005. Pasca-stroke ia mengaku sempat putus asa dan sudah tidak punya lagi semangat untuk hidup. Tapi lambat laun semangatnya memantik kembali. Dengan tangan yang bergetar ia mulai memulas kembali kuasnya di atas kanvas. Kali ini ia tak ingin melukis kuda. Tapi Cakil. Tokoh wayang yang dikenal mati terkena senjatanya sendiri saat bertarung dengan Arjuna.

Adam kembali ke dunia lukis melalui dunia yang begitu digemarinya sewaktu kecil: wayang.

“Kerjaan saya itu sehari-hari dengar kisah wayang di radio. Jadi wayang memang sangat menginspirasi saya,” jelas Adam.

“Saya percaya. Toh ia memilih saya menjadi kurator karena terinspirasi wayang, hanya karena nama saya memiiliki unsur Ismaya atau kalau dalam wayang lebih dikenal dengan sebutan Semar. Tokoh yang sangat dihormati di dunia perwayangan.”

Namun Adam rupanya cukup mbeling kali ini. Tidak semenurut seperti melukis kuda, untuk tema Cakil ia cukup nakal. Alih-alih menempatkan Cakil sebagai tokoh antagonis seperti di cerita perwayangan ia justru menjadikannya pahlawan.

“Loh kenapa Cakil harus ditempatkan sebagai tokoh yang jahat. Ia hanya mencoba mempertahankan wilayah hutan yang menjadi kekuasaannya, agar tidak dimasuki seenaknya oleh Arjuna. Itu saja,” tutur Adam.

Di titik ini, Adam kemudian cukup cerdas dengan mengaitkan tema lukisan Cakilnya dengan persoalan pembalakan hutan. Yang kerap terjadi justru atas izin para penguasa atau pejabat yang memiliki kepentingan.

“Lha Cakilnya sudah mati. Penjaganya sudah mati, ya hutannya seenaknya saja ditebangi,” kata Adam.

Dalam seri lukisan Cakilnya kali ini, Adam memang sepertinya ingin benar-benar menikmati pekerjaannya dengan mengangkat persoalan yang begitu karib dengannya sewaktu kecil. Wayang dan hutan. Sewaktu kecil ia hidup di Wonosobo dengan suasana alamnya yang asri, sambil menghabiskan waktu menghibur diri dengan cerita-cerita perwayangan.

Untunglah kalau untuk cerita perwayangan saya tidaklah terlalu asing. Orang tua saya pecinta wayang, itu kenapa nama saya mengandung nama wayang. Begitu juga nama kaka saya, Permadi, atau dalam kisah wayang lebih dikenal dengan sebutan Arjuna.

Untuk dasar-dasar kisah perwayangan seperti kisah Mahabarata atau Ramayana saya secara garis besar cukup tahu. Selain itu, beruntung juga sewaktu kuliah di Semarang saya dan kawan-kawan sempat membuat pameran foto mengenai grup wayang orang legendaris, Ngesti Pandowo.

Nah untuk tokoh Cakil kenamaan di Ngesti Pandowo, Alm Pak Tjipto Dihardjo, saya memiliki kedekatan sendiri dengan beliau. Ia adalah salah satu penari cakil kesayangan Bung Karno semasa jayanya, dan kerap diundang ke Istana Negara.

“Untuk jadi Cakil itu tidak mudah. Staminanya harus fit, tubuh harus benar-benar bugar. Karena Cakil dikenal sebagai tokoh yang lincah dan gerakannya liar tapi indah. Perang Kembang- pertempuran antara Cakil dan Arjuna- itu pertempuran dengan gerakan paling indah, lincah, dan paling sulit dalam bagian kisah perwayangan,” tutur Pak Tjip.

Di masa tuanya, Pak Tjip yang tidak lagi menjadi Cakil di Ngesti Pandowo lebih memilih menyewakan kostum wayang dan pakian tradisonal Jawa. Pak Tjip, meninggal pada 8 Juni 2014 di usia 88 tahun.

Tahun meningggalnya Pak Tjip, sama dengan tahun meninggalnya Adam, hanya beda bulan saja. Adam berpulang lebih dulu. Setelah sempat comeback pascastroke, Adam meninggal  pada 4 April 2014.

“Sempat dirawat di rumah sakit terlebih dahulu. Sembuh, minta pulang. Saat di rumah mengeluh dadanya sesak, lalu saat akan dibawa ke rumah sakit lagi sudah meninggal,” kabar Har, melalui pesan singkat SMS.

 Lalu bagimana dengan cerita rencana pamerannya? Lukisan Cakilnya?

Pameran yang kemudian saya beri tema “Urip Iku Urup” itu akhirnya berlangsung di galeri pribadinya di Cipanas, yang terletak hanya beberapa langkah saja dari rumahnya.

Setelah pameran selesai, saya pun jadi jarang berhubungan dengan Adam lagi. Kalau pun bertemu di luar, tidak di rumahnya. Entah, sepertinya ada memang ada permasalahan cukup kompleks di rumah Adam

Setiap kali bertemu. Seperti biasa, Adam selalu penuh canda. Dan seperti biasa, ia akan mengeluarkan banyak uang dari kantongnya untuk mentraktir saya dan kawan-kawan. Maklum setiap kali bertemu,  biasanya ia habis mengantar lukisan ke rumah kolektornya.

Makin hari, saya pun jadi sangat jarang berhubungan dengan Adam Lay. Hingga, di suatu sore saya menerima pesan pendek dari Har, kalau Adam sudah tiada.

Saya tidak hadir. Saya tidak melayat. Entah saya merasa tidak nyaman lagi menginjak rumah itu.

Selepas saya jarang berjumpa Adam, yang saya dengar, di sisa hidupnya ia kemudian kembali melukis kuda. Entah, mungkin para kolektor memang sudah telanjur mengenal Adam sebagai pelukis kuda, dan tema itulah yang layak dikoleksi. Yang akan menjadi investasi yang menguntungkan ke depannya.

Adam tak dapat menghindar dari jerat “kuda”.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: