Nurman Farieka: Menyulam Asa dari Kulit Kaki Ayam

Ilustrasi by: Guruh Adhi

Dari sebuah galeri sepatu kecil di Gang Subur, Regol, Bandung impian itu dirajut. Impian untuk menghadirkan produk fashion yang brand-nya mampu menjadi brand internasional. Tidak masalah, bukankah Jeff Bezos mulai merintis Amazon.com dari sebuah garasi mobil.

Sebilah pisau tajam di genggaman. Dengan lihai, bagian pangkal tumit belakang pada ceker itu lalu disayat. Cukup panjang, dari atas hingga ke bagian ujung jari. Setelah kulitnya agak terkelupas, lalu dengan tenaga yang terukur kulit ditarik agar lolos dari sela-sela otot, tulang, dan daging ceker yang tak seberapa itu. Supaya tidak licin, sejumput abu gosok pada jari tangan dapat membantu.

Cukup mudah jika sekadar melihatnya. Tapi tidak saat praktik. Ketika menarik kulit, selain harus bertenaga, juga harus hati-hati. Perlu teknik khusus. Jika ceroboh, kulit robek. Rusak.

Bagi pemuda asal Regol, Bandung Nurman Farieka, butuh waktu hampir tiga tahun bereksperimen sebelum kulit ceker olahannya benar-benar layak digunakan sebagai bahan baku membuat sepatu.

Nurman Farieka Ramdhany nama lengkapnya. Perawakannya kurus-tinggi. Kacamata berlensa tebal selalu menghiasi wajahnya. Di usianya yang masih muda, 24 tahun, Nurman telah memutuskan untuk menjadi seorang wirausahawan. Ia bertekun membuat produk fashion, khususnya sepatu.

Namun berbeda dari produsen sepatu yang lain. Nurman membuat sepatu dari kulit kaki ayam. Atas inovasinya tersebut, Nurman berhasil didapuk menjadi salah satu penerima penghargaan 10th Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia), di Jakarta, awal Oktober 2019 lalu.

Sebagai penerima apresiasi, Nurman berhak atas dana pembinaan Rp 60 juta dan pembinaan kegiatan yang dapat dikolaborasikan dengan kontribusi sosial berkelanjutan Astra seperti Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra.

“Ikut Satu Indonesia Awards itu pengalaman yang sangat berharga. Dari sisi networking dan pengalaman sangat luar biasa. Karena di ajang tersebut kita bertemu dengan orang-orang hebat. Masukan dari sembilan dewan juri saat itu, itu jadi bahan masukkan yang sangat berharga bagi saya,” tutur Nurman.

Nurman berkisah, ada salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan olehnya saat mengikuti proses penjurian SATU Indonesia Awards. Yaitu ketika harus presentasi di hadapan para juri.

Bayangin saja. Saya kan cuma lulusan SMU, dan belum pernah punya pengalaman presentasi sama sekali. Sekalinya presentasi di hadapan juri yang orang-orang hebat semua. Seperti Profesor Emil Salim. Itu deg-degannya luar biasa banget sih,” kenang Nurman.

Namun menurut Nurman, rasa deg-degannya sedikit meredup saat ia dan timya memasuki ruangan, para juri tersenyum ramah. Membuat suasana agak cair.

“Salah satu pertanyaan yang saya ingat, ada juri dari Astra yang menanyakan. Apa yang membuat saya layak untuk menjadi penerima SATU Indonesia Awards? Saat saya jawab, ‘karena produk kita keren’, itu ruangan langsung ramai tepuk tangan,” kisah Nurman seraya tertawa.

Nurman Farieka, ia bukan terlahir di tengah keluarga pengusaha. Bukan hal mudah baginya saat memutuskan untuk berhenti kuliah dan meniti karier menjadi seorang entrepreuner. Saat ini, Nurman tengah terus merajut asa dari sulaman kulit kaki ayam yang “disulapnya” menjadi sepasang sepatu.

Sumber: Hirka Facebook

Jalan panjang meraih cita

Orang-orang hanya melihat satu persen kesuksesan saya. Tapi tidak melihat 99 kegagalan saya.” Begitu kata sang pendiri Honda, Soichiro Honda.

Jalan menuju kesuksesan memang tidaklah  mudah. Butuh proses. Butuh kerja keras.

Hal itu pun sangat dirasakan Nurman. Memutuskan untuk berhenti kuliah di tahun pertama pada 2013. Saat itu Nurman mulai merasakan betapa beratnya hidup.

“Saya hanya sempat kuliah satu tahun. Kemudian memutuskan berhenti. Murni karena keinginan saya. Karena saya ingin menimba ilmu di luar pendidikan formal saja. Nah saat berhenti kuliah, berarti kan udah gak dikasih lagi tuh uang oleh orang tua. Baru terasa, beratnya hidup,” kenang Nurman.

Untuk mendapatkan uang ia pun mulai berjualan. “Jualan barang-barang pribadi sebenarnya mah…ha..ha..ha. Ya, kan waktu itu belum punya produk. Jadi saya jualin tuh barang pribadi. Tapi ya, lama kelamaan habis,” tutur Nurman.

Usai barang pribadi habis, bermodal uang Rp 150 ribu hasil menjual dompet pemberian temannya, ia pun mulai merintis berdagang aksesoris dari kulit. Seperti gelang, kalung, dll. Usahanya cukup menguntungkan. Karena memanfaatkan bahan dari limbah kulit perajin di Cibaduyut, biaya produksi aksesorisnya sangat minim.

 “Untungnya lumayan karena biaya produksinya paling Rp 6 ribu, terus bisa dijual Rp 35 ribu. Cukup laku saat itu, reseller-nya juga sudah mulai banyak. Tapi karena produknya gampang dibuat, kompetitornya mulai ramai deh,” jelasnya.

Setelah aksesoris kulit. Nurman lantas berdagang sepatu kanvas. Untungnya pun lumayan. Tapi kompetitornya juga ramai. Nurman berpikir, ia harus membuat produk yang belum orang buat. Yang “out of the box”, istilahnya.

“Saya mendapat inspirasi saat membaca jurnal kuliah ayah saya. Ayah sempat melakukan penelitian terkait kulit-kulit yang dapat dijadikan bahan produk fashion. Di antaranya, kulit ikan pari, kodok, bebek, termasuk kulit ayam,” tutur Nurman

Nurman fokus memilih kulit ayam. Meski sang ayah, Fatah Faturahman, sudah melakukan pernahpenelitian, bukan serta merta Nurman dapat langsung mengaplikasikan. Ia tetap melakukan eksperimen.

Keberhasilannya membuat sepatu dari kulit ceker ayam bukanlah didapat instan.  Bukan lewat proses “sim salabim”, lalu jadi.

Mulai dari proses cara menguliti saja ia butuh waktu eksperimen yang cukup lama. Itu belum termasuk eksperimen untuk tingkat kekuatan, kelenturan, pewarnaan, dan penyusunan kulit sesuai pola sepatu.

 “Prosesnya produksinya saja memang cukup rumit. Setelah kulit terlepas, masih ada beberapa tahapan sebelum akhirnya kulit ceker itu menjadi sepasang sepatu yang siap dipakai konsumen,” kata Nurman.

Untuk detailnya Nurman menjelaskan, setelah pengulitan proses pembuatan sepatu meliputi perendaman cat, pengapuran, pengasaman, dilanjut penyamakan, pengeringan, penjahitan di pola rancangan, penarikan ke cetakan, pemasangan sol, pressing, dan finishing 

“Prosesnya butuh waktu sekitar 10 hari sebelum kulit betul-betul siap untuk diproduksi. Sedang jika proses hingga menjadi sepasang sepatu, kira-kira butuh waktu tujuh hari,” kata ayah dari Aisyah Nurul Jannah itu.

Untuk membuat sepasang sepatu, Nurman biasanya butuh sekira 45 kulit ceker ayam. Tentu dari ceker yang berukuran besar.

Tak mudah memang bagi Nurman untuk menyulap kulit kaki ayam menjadi sepasang sepatu. “Dari pemilihan kulit harus benar-benar diperhatikan. Seperti ketebalannya harus sekira satu-dua milimeter agar tidak mudah robek. Belum lagi saat proses produksi, kulit harus ditempel dan disusun sesuai pola,” terang pria yang berhias kumis tipis di atas bibirnya itu. 

Pada tahun 2015-2016 Nurman full bereksperimen. Memasuki medio 2017, saat produk sudah berhasil diciptkan, baru ia mulai memasarkan.

Dari prosesnya yang njelimet, pantas saja memang jika sepatu berbahan kulit ceker yang diberi label Hirka tersebut kemudian dibanderol dengan harga yang lumayan tinggi. Rp 500 ribu- 1 juta untuk sepatu perempuan. Sedang pria, Rp 800 ribu-2 juta.

Terkadang menurut Nurman, ada juga konsumen yang sedikit komplain persoalan harga. Karena untuk sepatu berbahan dasar kulit ceker, lumayan mahal menurut mereka.

“Untuk itu kita terus melakukan edukasi, bahwa proses pembuatannya memang cukup rumit, dan produk yang kami jual memang produk yang berkualitas. Eksperimennya cukup lama untuk dapat menghasilkan kulit ceker yang layak, yang awet dan tahan lama, agar dapat menjadi bahan sepatu,” jelas Nurman.

Sebenarnya untuk kisaran harga tersebut, sepatu Hirka karya Nurman tidaklah mahal. Apalagi produknya karya anak bangsa, ramah lingkungan, dan sudah mampu menembus pasar mancanegara.

“Lebih mudah meyakinkan orang luar daripada masyarakat kita. Orang luar saat dibilang terbuat dari kulit kaki ayam, nggak nawar. Langsung beli. Kalau masyarakat kita memang masih tergantung brand. Kalau brand-nya belum terkenal ya tidak mau beli. Untuk itu kita saat ini sedang gencar promosi melalui sosial media, untuk memperkuat brand Hirka.”

Ramah Lingkungan-Sustainability

Belum lama ini, berita terkait dukungan Ratu Elizabeth II terhadap gerakan antikekerasan pada hewan sempat mewarnai berita di berbagai media masa. Ratu Elizabeth II dikabarkan tidak akan lagi mengenakan jaket atau mantel yang terbuat dari bulu hewan. Wanita berusia 93 tahun tersebut hanya akan memakai mantel atau jaket  berbahan bulu imitasi.

Langkah tersebut diambil, lantaran ibu dari Pangeran Charles tersebut dikecam oleh aktivis pecinta hewan karena kerap menggunakan mantel berbulu hewan.

Pengunaan produk-produk fashion berbahan dasar kulit hewan tertentu seperti kulit reptil, memang kerap mendapat kecaman dari para aktivis pencinta hewan. Bukan hanya Ratu Elizabeth, tapi artis terkenal seperi Beyonce atau Victoria Beckham pun pernah kena damprat para aktivis karena menggunakan produk fashion berbahan kulit ular.

“Itu juga salah satunya yang menjadi concern saya untuk mengembangkan kulit ceker ayam sebagai material membuat sepatu. Sustainability. Bahan bakunya banyak dan mudah didapatkan. Terlebih oleh rumah makan cepat saji kan ceker cuma dianggap sebagai limbah saja,” tutur Nurman.

Serius menekuni bisnis sepatu. Di awal usaha, untuk kegiatan promosi dan pemasaran Nurman kerap mengikuti ajang-ajang pameran seperti INACRAFT. Bukan sekadar jualan. Pameran menjadi media bagi Nurman untuk memberikan edukasi secara langsung soal produk sepatunya yang berbahan kulit kaki ayam kepada konsumen.

“Di awal kami memang lebih fokus pada program offline dengan banyak mengikuti pameran-pameran. Karena kalau offline, nilai produknya bisa langsung tersampaikan,” tutur Nurman.

Terus berpromosi. Produk unik inovatifnya mulai dilirik media massa, gara-gara Walikota Bandung saat itu yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, memposting produk Hirka di media sosial miliknya.  

“Sejak saat itu, mulai ramai media yang datang untuk meliput,” ingat Nurman.

Berjuang dari nol, lewat produknya, Nurman kini telah berhasil mendaur ulang limbah ceker ayam menjadi produk fashion yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Dengan begitu, bukan tidak mungkin ia akan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar, khususnya pengepul ceker di pasar.

Yang terpenting. Inovasinya juga dapat menjadi inspirasi bagi produsen sepatu lain agar tidak lagi menggunakan bahan baku kulit reptil.

“Karena kalau sudah jadi sepatu. Itu sebenarnya mirip sekali teksturnya dengan kulit ular atau buaya. Jadi kenapa tidak pakai bahan baku yang aman saja,” terang Nurman.

Galeri Sederhana di Gang Subur

Semua berawal dari sebuah rumah berlantai tiga yang terletak di Gang Subur RT 03/RW 05 No 20,  Cigereleng, Kecamatan Regol, Kota Bandung. Di rumah itulah, seluruh proses produksi berlangsung. Begitu juga untuk persoalan pemasaran.

Di loteng rumah, yang terletak di lantai tiga, menjadi ruang untuk workshop sepatu. Di sanalah sepatu kulit kaki ayam inovasi Nurman diproduksi. Mulai dari pengulitan hingga finishing. Sedang jika ingin melihat-lihat yang sudah jadi, galeri Hirka terletak di lantai satu. Galeri ini pun masih menyatu dengan bangunan rumah.

“Harapan untuk Hirka, tentu saya ingin Hirka nantinya menjadi brand internasional. Kalau untuk kulit kaki ayam, saya ingin itu dapat menjadi produk signature-nya Indonesia. Untuk itu kita sekarang sedang mengumpulkan orang yang tertarik mengembangkannya. Untuk produk apa saja. Kemarin ada yang mencoba mengembangkan jadi kap untuk lampu. Nanti kalau sudah banyak dan besar, kan bisa jadi siganture product Indonesia,” kata Nurman. 

Sumber: Hirka FB

Guna mewujudkan impiannya, Nurman teramat sadar kalau ia harus memperkuat brand-nya terlebih dauhulu. Untuk itu di tahun 2020 ia akan mulai menyasar ke program digital marketing, dengan mulai mengaktivasi sosial media, membuat konten yang menarik, dll.

“Ya, makanya saat ini kita ada dua divisi. Produksi dan digital. Produksi empat orang, digital lima orang. Di tim digital sendiri kita tidak mencari yang sudah berpengalaman, yang fresh graduate tidak apa-apa. Malah ada juga yang masih kuliah. Saya ingin memberi kesempatan pada banyak oang untuk berkembang,” kata Nurman.

Hirka, nama itu diambil dari bahasa Turki yang artinya “dicintai”. Selaras dengan harapan Nurman yang ingin brand-nya dapat dicintai oleh orang-orang dari berbagai negeri suatu hari nanti. Semoga.

%d blogger menyukai ini: