Kiprah JFW Menembus Dunia (Mengenang Dynan Fariz)

Sumber: JFC Facebook
Semasa kecil ia selalu terpukau dengan kemeriahan karnaval di saat 17 Agustusan. Ia bertekad akan membuat yang lebih meriah. Jember Fashion Carnival (JFC) saat ini telah menjelma menjadi event karnaval kelas dunia.  JFC bahkan sudah diakui sebagai event yang ada di peringkat tiga besar dunia.

“Saat karnaval, saya pernah diludahi, dicemooh bahkan sampai diteror. Tapi kembali lagi, saya yakin ada Tuhan yang akan selalu melindungi saya. Saya hanya ingin berbuat yang berarti dalam hidup saya. Kita manusia beranjak dari masa kecil ke dewasa, tua, lalu meninggal. Kita mau berbuat apa? Saya ingin membuat sesuatu yang nantinya akan selalu dikenang,” kisah Dynand Fariz.

Bagi sang penggagas JFC, Dynan Fariz, membuat JFC sebesar seperti saat ini memang bukanlah perkara mudah.  Banyak aral dan rintangan.  Tapi kecintaannya pada kampung halamannya, Jember. Membuatnya terus berjuang. Walau nyawa taruhannya.  

“Saya mendengar banyak cerita-cerita yang buruk tentang Jember. Saya sedih mendengar semua itu. Saya ingin berbuat sesuatu untuk kota kelahiran saya,” tutur Dynan

“Jember itu punya apa? Ada Reog tapi itu bukan milik kita. Ya harus ada revolusi budaya, saat ini kita punya karnaval dan fashion. Dulu memang banyak penentangan, tapi saat ini masyarakat sudah menerima. Bahkan guru mengaji pun turut bergabung. Kini, akan sulit memisahkan Indonesia dari Jember di mata dunia,” .

Tapi mengapa fashion menjadi pilihan membangun mimpi di daerah yang religius, seperti Jember? Dynan punya asalan. Dia mengatakan, fashion milik semua orang. Cuma banyak yang tidak menyadari.

Dynan mencontohkan, kebiasaan orang tua saat mengenakan pakaian kepada anaknya dan memadukan antara warna dan coraknya, atau saat orang ingin bepergian dan memadumadankan baju, celana, dan sepatu yang akan digunakan, itu saja sudah disebut fashion.

Dari Karnaval Keluarga hingga Mendunia

Awalnya hanya kegiatan kecil dan iseng saja, dari sebuah keluarga yang bosan dengan rutinitas kumpul setiap hari raya Idul Fitri tanpa melakukan apa-apa selain aktivitas silaturahmi. Padahal mereka yang berkumpul, rata-rata pulang ke kampung  halamannya di Jember datang dari daerah yang cukup jauh. Ada yang dari Palembang,  Jakarta, Surabaya, dan-lain lain.

Lalu tercetuslah ide untuk membuat kegiatan keluarga yang kreatif dan inofativ, agar kumpul tidak lagi terasa membosankan. Anggota keluarga yang mempunyai pengetahuan lebih soal agama, diminta berceramah tentang agama. Yang paham soal budaya, memberikan pengetahuan soal budaya dan kerativitas. Jadilah setiap tahun mereka berkumpul dengan konsep acara yang telah ditentukan sebelumnya.

Termasuk, setiap anggota keluarga dituntut untuk memakai pakaian dengan desain yang unik sesuai dengan tema yang disepakati. Sehingga saat bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga, iring-iringan mereka layaknya karnaval kecil.

“Keluarga saya keluarga besar, saya anak ke delapan dari sebelas bersaudara. Saat kami bersliaturahmi keliling kampung dengan pakaian layaknya orang karnaval, banyak tetangga yang terheran-heran saat itu. Ada juga terdengar seloroh ‘dasar keluarga gila,’” kenang Dynand Fariz.    

Tapi ternyata inilah jalan pembuka bagi Dynand dalam mewujudkan impiannya. Sosoknya yang begitu terkesan dengan pawai karnaval 17 Agustusan selagi ia masih bocah, mulai berpikir untuk merancang karnaval dalam lingkup yang lebih besar.

“Jujur, saya orang yang sangat terkesan dengan acara karnaval 17 Agustusan. Tapi lama-lama penontonnya semakin menghilang. Parahnya, kadang hanya pihak keluarga peserta  saja yang menyaksikan, yang lainnya ke mana?”

Guna membangun mimpinya, Dynand pada 1998 mendirikan Rumah Mode Dyndand Fariz. Banyak saudara dan tetangga yang datang dan memberi selamat saat pembukaan. Meski di sisi lain mereka juga mengingatkan, “Memang kamu gak mikir dampaknya apa? Ingat loh Riz Jember ini kota religius, masa kamu buka yang rumah mode. Percaya sama saya, paling tiga bulan sudah tutup,” kenang Dyand menirukan apa yang pernah diucapkan sudara dan tetangga-tetangganya.

Tapi Dyand bergeming, ia tetap pada tekadnya. Pada 2001, dengan mengangkat tema “Pekan Mode Dynan Fariz”, seluruh karyawan yang rata-rata anggota keluarganya sendiri, selama sepekan diminta untuk berpakaian sesuai dengan trend fashion.   Acara pekan mode hanya dimulai dengan acara berkeliling di gang-gang kampung.

Di rumah mode itu, Dynan mulai menjalankan misinya. Anak-anak muda yang berniat diajak bergabung, dikenalkan dunia fashion. Mereka juga memperoleh pelatihan mendesain pakaian dan sedapat mungkin memanfaatkan barang bekas sebagai bahan baku. Fariz pun mengajak anak-anak sekolah melakukan hal yang sama agar lebih percaya diri.

Kadang mengangkat tema punk, koboi, atau gypsy. Tidak perlu khusus membuat baju baru. Dari baju-baju yang ada Dyand menggali unsur kreativitas karyawannya agar mereka mengkplorasi tampilannya. “Pertama mereka mengeluh, karena pasti butuh dana. Saya bilang tidak usah, kalau tema koboi ya misalnya baju kotak-kotak. Lalu baju yang mereka punya dibawa ke rumah mode, di situ kita eksplorasi bersama-sama. Ya karnavalnya memang menarik perhatian, banyak yang tertarik tapi tidak sedikit juga yang mencaci,” katanya.

Dari rumah mode yang sekaligus dijadikan markas untuk berkumpul, Dynand pelan-pelan membangun impiannya. Setelah cukup banyak orang yang tertarik untuk mengikuti kegiatan pekan modenya, Dyand pun mulai menyelenggarakan dalam lingkup yang sedikit lebih besar. Ia dan komunitasnya tidak hanya berkeliling di gang-gang kampung, tapi mulai berkeliling alun-alun Jember. Dari sinilah mulai tercetus ide Jember Fashion Carnaval (JFC).

Bukan perkara mudah, Dynand tidak memulainya di daerah layaknya Bandung, Jakarta, Bali, atau Yogyakarta, tempat di mana seni dan fashion sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Kultur masyarakatnya pun lebih terbuka. Dynan banyak mengalami penentangan.

 “Saya hanya ingin membuat sesuatu yang berarti dalam hidup saya. Saya ingin masyarakat bangga dengan daerahnya. Saya yakin, ada Tuhan yang akan selalu melindungi saya,” lanjut  Dynand dengan nada suara agak serak dan sedikit parau. Matanya berkaca-kaca.

Mengatasi Terjal Rintangan

Dynand Fariz hanyalah anak seorang tukang jahit biasa. Sejak kecil, pria kelahiran Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember ini sama sekali tidak merasa bangga dengan kota kelahirannya. Ia merasa bahkan kerap merasa minder.

Dyand  menjalani pendidikannya sampai SMA di Jember, lalu kuliah di IKIP Surabaya jurusan seni rupa. Setelah lulus, ia langsung diterima almamaternya untuk menjadi dosen. Tapi rupanya Dynand merasa kurang mendapat tantangan jika hanya menjadi dosen. Ia pun mencoba peruntungan dengan mengambil beasiswa di ESMOD Jakarta.

Keberhasilannya menembus beasiswa ESMOD, menghantarkan juara lukis dunia yang digelar di sebuah lembaga di New Delhi  pada 1978 itu menjalani kehidupan baru sebagai pelaku fashion. Kecerdasan dan sifat pantang menyerahnya menjadikan Fariz sebagai siswa berprestasi sehingga ia mendapatkan beasiswa di ESMOD pusat, Paris selama 3 bulan.

Agustus 2002, Fariz mengajukan perizinan untuk melaksanakan pergelaran Jember JFC ke pihak pemerintah daerah. Masih sangat membekas dalam ingatan, bagaimana penolakan demi penolakan harus dihadapainya. Mulai dari urusan moral, melanggar tradisi, dan lain-lain.

“Selalu saja ada alasan penolakan saat itu. Salah satunya soal ingin merubah pawai dari berkeliling dengan  berjalan lurus seperti di catwalk. ‘Sejak Indonesia merdeka, di Jember yang namanya pawai ya berkeliling kota, bukan jalan lurus’,” kata mereka.

Saya jawab, ‘saya beda, saya ingin go international’,” tutur Dynand.

Tapi Dynand tak patah arang, ia mencoba untuk bertemu orang nomor satu Jember, Bupati Mza Djalal. Nasib baik, bupati mengerti keinginannya, lantas mengizinkan niatan Fariz.

“Izin turun tanggal 31 Desember, karnavalnya 1 Januari, coba bayangkan. Setelah ada izin karnavallah kita, hujan deras. Waktu itu temanya, punk, koboi, gypsy. Jadi yang bergaya punk dengan rambut spike-nya yang tinggi-tinggi itu, jatuh semua,” kenang Fariz seraya tertawa.Yang unik dari karnaval yang digelar Fariz, pesertanya hanya orang-orang biasa, terdiri dari anak-anak remaja desa, atau bahkan tukang sayur sekalipun.

Sukses menggelar JFC pertama, Fariz menuturkan kalau pada pelaksanaan ke dua mulai ada tentangan, baik dari masyarakat maupun pihak pemerintah daerah. Alasannya, JFC mengacu pada budaya karnaval luar dan dapat merusak generasi muda.

“Saya sempat dipanggil DPRD Jember, mereka meminta supa JFC dihentikan. Saya tahu, banyak di antara mereka yang tidak pernah menonton JFC, saya pun menantang mereka untuk datang menyaksikan dengan menjadi juri. Kalau ada satu saja, peserta yang mengumbar aurat, saya yang pertama kali akan menghentikanya. Jangan mengambil pendapat berdasar pernyataan orang lain,” kisah Fariz.

Nasib baik mulai berpihak pada Fariz saat 2012 JFC diperbolehkan ikut Bali Fashion Week. Di stand berukuran 3×3 meter, JFC memamerkan galeri foto karnaval pertama mereka. “Yang hujan-hujanan itu. Tapi ada wartawan Reuters yang tertarik saat itu, dia memfoto dan berjanji akan datang pada JFC 3.”

Datanglah sang wartawan Reuters ke JFC 3 pada 38 Agustus 2004, yang saat itu mengangkat tema busana Mali, Athena, Brazil, Indian, Futuristic, dan Vintage. Yang tutur Fariz sempat membuat bingung wartawan-wartawan lokal di sana. “Untuk apa kamu tertarik meliput, itu kan hanya seperti pawai 17 Agustus biasa saja, itu kata wartawan daerah kepada si wartawan Reuters,” kenang Fariz.

Setelah naik fotonya di Reuters, menurut Dynand pihak Kompas langsung menghubunginya. “Mereka bertanya, ini karnaval di Jember? Benar?, ya saya jawab, ‘iya lha saya aja belum lepas baju karnaval,’” kata Fariz.

Setelah foto JFC mangkal di halaman satu Kompas, barulah menurut Fariz JFC mulai dikenal masyarakat luas. “Itu sekaligus menjadi jawaban bagi pihak pemerintah daerah,” kata Fariz.

Meski karnaval selanjutnya, juga tidak selalu mulus. Sesekali tetap ada demo yang menentang kegiatannya. Saat JFC 10 berlangsung, menurut Faris sempat ada sekelompok ibu-ibu yang mendemo kegiatannya. “Ya lagi-lagi orang yang tidak pernah menyaksikan JFC yang mendemo, sepertinya mereka sengaja diminta untuk mendemo JFC,”

Perjuangan Fariz untuk membuat “Revolusi Budaya”- seperti yang diistilahkannya- di kota kelahiran tercinta, Jember memang tidaklah mudah. Ia menempuh berbagai rintangan dan risiko, untuk mewujudkan impain masa kecilnya.

Saat ini, JFC sudah menjelma menjadi agenda karnaval bertaraf internasional, bahkan sudah masuk dalam daftar 7 perhelatan karnaval terbesar di dunia. Pergelarannnya pun sudah mencapai tahap ke 12. Terakhir mengangkat tema soal Tibet.

Dari karnaval beranggotakan keluarga sendiri, Dynand mampu membawa acaranya menembus kancah internasional. Jember kini bukan lagi sekadar kota yang mengadakan pawai 17 Agustusan minim penonton, tapi mampu menyuguhkan totonan fashion dan karnaval yang dihadiri orang dari berbagai penjuru dunia.

Perkembangan ekonomi dan priwisata di daerahnya pun semakin pesat, terbukti hotel sekelas Aston rela membuka cabangnya di sana. “Itulah profit yang saya inginkan, Jember dapat maju, dan masyarakatnya bangga dengan tanah kelahirannya.  

Lalu apa yang membuat JFC menarik dan berbeda dengan karnaval lainnya di dunia? Di JFC tak satu pun peserta berkostum sama. ‘’Bahkan, tiap tahun tema JFC selalu berbeda,’’ kata Fariz.

Kini setelah JFC sukses, Fariz dan timnya mendapat kesempatan mengadakan pameran di London, Inggris dalam Jambore International. Ia pun sempat diminta bertandang ke India untuk mempresentasikan karyanya, “Hidup saya memang hanya untuk JFC dan Jember. Saya ingin JFC bisa hadir setiap tahun. everlasting,” ujarnya.

Dynan Fariz, kini telah tiada. Ia telah berpulang pada April 2019 lalu. Ajang JFC menjadi warisan yang sangat berharga darinya, bukan hanya bagi masyarakat Jember, tapi juga Indonesia. Seperti harapan yang selalu ia ungkapkan kepada saya, saat wawancara beberapa tahun lalu.

“Saya hanya ingin membuat sesuatu yang berarti dalam hidup saya. Saya ingin masyarakat bangga dengan daerahnya. Saya yakin, ada Tuhan yang akan selalu melindungi saya,” katanya saat itu, dengan nada suara agak serak dan sedikit parau. Matanya berkaca-kaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: